Rabu, 17 Agustus 2016

Antara Budaya dan Agama

Mungkin banyak orang mengenal budaya tidak bisa berkaitan dengan agama. Memang benar karena budaya juga beragam bentuk dan sifatnya, tetapi jangan disalahkan juga. Ada budaya yang tidak bisa secara mutlak diterima di agama kita. Tetapi ada budaya yang notabennya tidak bisa diterima di agama islam. Kita ambil contoh seperti tahlil pada saat mitoni dan acara syukuran atau lebih dikenal dengan slametan. Budaya itu dulunya adalah budaya dari umat hindu di Jawa khususnya pada waktu sebelum agama islam masuk di Indonesia, tetapi di dalam acara itu di isi dengan membacakan kalam allah dan ada makna yang istimewa juga yaitu bisa bersilaturrahmi bersama. Tak disadari kita telah mengikuti ajaran Rasulullah.
Setelah penyebaran Islam yang masuk melalui dunia perdagangan dan disebarkan oleh para wali yang kita kenal dengan nama walisongo. Penyebaran islam di Indonesia sangatlah pesa, karena para wali menyebarkan ajarannya tidak seperti di bangsa arab yang melakukan penyebarannya dengan melakukan peperangan untuk menaklukan kerajaan-kerajaan agar bisa tersebar agama islam tersebut., tetapi dengan masuk melalui budaya dari agama nenek moyang sebelum agama islam.
Sudah tentu anda semua tahu, begitu kokoh dan jayanya agama islam di negara kita, tidak seperti di Timur Tengah sana yang selalu ada pertikaian sesamanya. Padahal islam sudah mengajarkan seperti apa yang terkandung pada surat Alkafirun pada ayat terakhir “bagimu agamamu bagiku agamaku” (Q.S Alkafirun:6). Disitu bisa dilihat bagaimana besarnya toleransi islam kepada keyakinan yang di anut oleh orang lain, tetapi kita juga harus bertoleransi kepada agama kita sendiri. Seperti contoh, kita mempunyai ilmu syareat yang masih tipis keimanannya, kenapa kita ingin belajar agama-agama lain, padahal kita diwajibkan untuk mengetahui lebih luas ilmu syareat kita dan akan mendapatkan sesuatu yang sangat dahsyat kebaikan yang diberikan kepada kita jika mengetahuinya. Berarti kita tidak menghargai agama kita sendiri bersikap dan bertindak seperti itu.
Mungkin di dalam aqidah ahlusunnah waljamaah juga tidak ada amalan berdo’a lewat kemenyan, tapi faktanya masih banyak orang yang percaya dengan hal tersebut. Dan katanya itu semua hanyalah metode penyembuhan untuk snag kuasa. Dan kebanyakan pula niatnya juga bukan untuk sang maha kuasa tetapi ada yang mengucapkan permintaan kepada leluhur yang mereka percayai di tempat yang mereka beri sesajen tersebut. Kepercayaan dalam metode lewat kemenyan itu berawal dari ucapannya akan meresap ke asap lalu terbang menuju ke atas sampai ke Allah dan akan cepat dikabulkan. Pemikiran yang menurut mereka masuk akalah yang mereka percaya. Padahal pemikiran itu masih dangkal dan perlu dikaji ulang.

Memang peristiwa diatas itu sama saja berdo’a kepada sang illahi, dengan cara yang kita sebut tawasul. Tapi jangan berfikiran bahwa Allah itu di dekat kita saat kita sujud. Tetapi jika ingin mengetahuinya kita harus tau ilmu ketauhidan dulu. Bagaimana sifat-sifat Allah dan sebagainya. Seperti saja kita merasakan udara. Coba mengamati udara sekeliling kita. Begitu dekat dengan kita dan begitu terasa jika kita merasakannya. Semakin besar angin yang berhembus semakin besar pula yang bisa kita rasakan dan melihat dampak dari hembusan tersebut. Lalu berdo’a di depan menyan apakah itu haram? .  Berdo’a lewat kemenyan adalah  budayanya orang budha. Sudah dijelaskan diatas kenapa orang islam di indonesia masih menganut kebudayaan leluhur. Tapi jangan sontak bahwa semua seperti tahlilan dan sebagainya itu bid’ah. Memang ada hadist yang megatakan bahwa orang yang meniru kaum lain mereka termasuk kaum tersebut. Tapi kita juga harus tau , bid’ah itu terbagi menjadi dua yaitu bid’ah baik dan bid’ah tidak baik. Lalu dimana bid’ah yang baik itu? . Bid’ah yang baik adalah sesuatu ajaran yang tidak pernah dilakukan rasulullah  tetapi bisa menjadi kebaikan kepada umat rosulullah. Hukum mengenai berdo’a di depan kemenyan itu tidak mengapa tapi lebih baik ditinggalkan karena tradisi itu tradisi orang dulu yang dirubah oleh penyebar islam melalui budaya dan kita sebagai orang yang lebih mengerti assunah maka tradisi itu sebaiknya ditinggalkan. Ini berdasarkan qiyas dan jika berdo’a didepan kemenyan untuk meminta kepada selain Allah itu hukumnya haram.

Selasa, 27 Oktober 2015

Bahagia ?


Malam semakin larut, akankah kau tetap terduduk melewati malam yang panjang ? di sebuah tempat yang hanya diterangi lampion hias dan alunan musik? saya mencoba menikmati malam ini dengan segelas milk tea. Malam hari yang biasanya orang menikmati waktu istirahat tapi orang-orang disini tidak seperti biasanya. Mungkin bagi mereka itu hal yang  biasa, tapi terkadang saya berfikir kenapa mereka memilih melewati malamnya dengan bercengkrama bersama teman hingga bahkan mereka lupa akan kewajiban dan waktu yang menunjukan seakan menjelang fajar. Tertawa, bercanda bahkan asik dengan sebuah permainan kartu, itukah kehidupan malam sebenarnya ? Hidup memanglah pilihan. Pilihan mereka mau menikmatinya seperti apa dan bagaimana. Seperti halnya malam ini. Sempat terlintas mengapa hidup seperti ini. 
Terkadang berpikir hidup itu tak adil. Tapi, arti adil itu sendiri ialah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Berusaha mencoba untuk memahami hidup, mencoba menerima bahwa realitanya hidup ini memanglah adil. Ada yang menyatakan bahwa hidup ini memanglah sulit maka jangan kau buat lebih sulit lagi, nikmati sajalah.  Tetapi disisi lain ada yang menyatakan sangat kontras dengan pernyataan tersebut bahwa hidup ini indah, jadi nikmatilah hidupmu. Namun  kedua pernyataan tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menikmati hidup. 
Hidup bahagia ? sebuah kalimat yang tidak asing lagi bagi semua orang. Ya, semua orang pasti mendambakan hidup yang bahagia. Lalu, apa yang dimaksud hidup bahagia itu ? seperti apakah hidup bahagia ? bagaimanakah hidup bahagia ? apakah dengan memiliki banyak uang maka orang tersebut akan dikatakan hidup bahagia ? apakah dengan kekuasaan tinggi yang dimiliki seseorang akan membuat hidupnya bahagia ?  atau dengan memiliki banyak uang dan waktu orang tersebut akan hidup bahagia ? lalu apa makna dari bahagia itu sendiri ? bukankah orang yang tidak mensyukuri hidupnya akan selalu merasa kurang puas , kurang dan kurang ? jika hidup selalu merasa kurang dan kurang, apakah bisa dikatakan bahagia ? lalu apalah artinya jika memiliki kekuasaan tinggi, atau memiliki banyak uang dan waktu jika tidak mensyukuri apa yang telah dimiliki ? Sebenarnya makna dari bahagia itu sederhana yaitu selagi kita masih bersyukur kepada Sang Pencipta. 
Sadarkah mereka ? ada yang berpendapat bahwa mereka akan sadar ketika mereka dekat dengan Tuhannya dan teman setialah yang akan menasehatinya. Memang hidup itu pilihan tapi realita kebanyakan mereka di pelataran bumi ini hidup hanya untuk bersenang-senang, mereka tidak akan puas memiliki apapun yang bersifat sementara , melihat kondisi seperti ini pada akhirnya  tetap kembali pada pilihan masing-masing.

Rabu, 15 April 2015

Analisis Undang-Undang No 24 Tahun 2009

Analisis Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009
Menurut saya kelebihan dari Undang-Undang ini mampu mengatur tentang berbagai hal yang terkait dengan penetapan dan tata cara penggunaan bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan termasuk di dalamnya diatur tentang ketentuan pidana bagi siapa saja yang secara sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang terdapat di dalam Undang-Undang ini.
Undang-undang Nomor 24 ini khususnya tentang Bahasa merupakan salah satu upaya untuk lebih menyempurnakan dan meningkatkan semua sektor yang berhubungan dengan masalah pembinaan bahasa .
Sedangkan kekurangan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 ini khususnya tentang Bahasa, hanya mengatur  penggunaan bahasa baku. Tidak ada pembatasan penggunaan bahasa informal.
Dampak dari kekurangan tersebut adalah mulai tergusurnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dikarenakan munculnya bahasa gaul. Penggunaan bahasa-bahasa yang tidak baku mengakibatkan keberadaan bahasa gaul sering digunakan kaum muda sebagai alat komunikasi dalam pergaulan sehari-hari. Baik lisan maupun tulisan,bahasa ini dianggap sebagai media berekspresi.
Namun, tanpa disadari, lama kelamaan bahasa gaul bisa mengancam eksistensi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan karena semakin jauh berbeda dengan kaidah-kaidah bahasa yang baik dan benar. Bisa jadi bahasa Indonesia tak lagi perlu ejaan. Bisa-bisa akan merusak bahasa Nasional kita sendiri. Jika sudah rusak dimana letak citra negara kita dilahirkan ini. Sungguh perkembangan yang tidak baik bagi anak cucu kita kelak.
Solusi untuk mengurangi dampak tersebut adalah menjaga supaya tidak seenaknya berbahasa, juga menjaga pertumbuhan bahasa agar tidak liar .Masyarakat dapat membantu pemeliharaan bahasa dengan memeragakan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Media pun dapat menjaga sajian bahasa lisan maupun tulisannya dengan benar .

Sebagai anak bangsa berbanggalah dengan perubahan-perubahan yang datang dari diri kita sendiri, jangan bangga dengan perubahan yang dibawa oleh orang lain. Tak tentu juga dampak yang didapat semuanya baik. Siapa lagi yang membanggakan bahasa Indonesia jika bukan kita sendiri sebagai warga negaranya.

Minggu, 01 Juni 2014

Asal Mula Desa Pulosari Brebes





Dahulu ada aliran sungai sekarang bagian hilirnya tidak teratur . mulai desa yang sekarang disebut Buaran . airnya ada yang mengalir ke jurusan barat , ada pula yang berbelok ke timur . Diantara cabang-cabang sungai itu , terjadilah tanah darat yang disebut Delta. Penduduk sekitar menyebutnya Pulau / Pulo. Karena tampaknya seperti pulau kecil yang dikelilingi air . Di Delta itu masih terdapat semak belukar. Meskipun banyak belukar , tapi masih ada yang tinggal disitu. Dia adalah seorang lelaki berhidung besar bagaikan bawang merah bulat. Karenanya , orang-orang menyebut Embah Penthul. Embah Penthul orangnya periang, ramah , jenaka dan juga pemberani. Seekor harimau kumbang dapat ditangkapnya . Orang-orang setempat mengetahui akan keberanian Embah Penthul , lalu menyebutnya dengan nama tambahan Pentolan . Adapun harimau kumbang yang sempat ditangkap itu, dapat dijinakkan dan dipelihara dengan baik , namanya Kumbang Sari.Makin lama , Embah Penthul makin terkenal di pulau itu . Bahkan kadang-kadang ia mampu berbuat ajaib sehingga ia dikeramatkan oleh tetangga sekitarnya . Oleh karena tempat tinggal Embah Penthul itu di sebuah Delta atau Pulo  dan dia memelihara seekor harimau yang diberi nama Kumbang Sari , maka nama desa tersebut kini disebut Pulausari=PULOSARI.